Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 10 Juni 2015

Makalah Upacara Kelahiran, Perkawinan, dan Kematian dalam Agama Hindu


UPACARA KELAHIRAN, PERKAWINAN, DAN KEMATIAN
DALAM AGAMA HINDU



Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah
Hindu dan Buddha di Indonesia

Dosen Pembimbing
Siti Nadroh, MA


Disusun Oleh

Mohammad Rifky Nuris
Nevartani Kurbin
Novi Karyahti
Novih Syahidah
  



JURUSAN PERBANDINGAN AGAMA
FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2015






  PENDAHULUAN

 Dalam agama pasti memiliki cara masing-masing untuk menjalankan ritusnya. Setiap praktik upacara keagamaan memiliki makna, symbol dan perangkat yang sacral dan penting untuk dilaksanakan dan dipelihara. Perangkat upacara itu sesungguhnya adalah merupakan budaya Hindu. Dengan bersatunya kekuatan melalui pemujaan, maka akan menimbulkan kekuatan baru sesuai dengan fungsi upacara. Dengan demikian adanya upacara keagamaan adalah hal yang sangat pentingkarena upacara akan melahirkan karma, dengan adanya karma manusia akan bisa menolong dirinya sendiri dalam hal kelepasan dari kesengsaraan lahir dan bathin. Dalam makalah ini akan membahas praktik upacara yang dilakukan oleh umat Hindu, yaitu Makna dan upacara Kelahiran, Perkawinan, dan kematian.
















PEMBAHASAN
A.       Makna Kelahiran dan Upacaranya
a.       Makna Kelahiran
Manusa artinya manusia, Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus dan ikhlas. Upacara Manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dalam rangka pemeliharaan, pendidikan serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan. Upacara manusa yadnya erat sekali hubungannya dengan Catur Purusa Arta yang artinya empat tingkatan atau jenjang dalam menjalani hidup ini. Bagian dari catur purusa arta adalahbrahmacarigrehastawanaprasta, dan bhiksuka. Dalam Jenjang-jenjang hidup inilah kita akan mengalami yang disebut manusia dalam agama tadi. Sebelum manusia itu dilahirkan dan masuk pada jenjang-jenjang kehidupan.
Dalam agama hindu,ritual atau upacara yang dilakukan ketika bayi masih dalam kandungan disebut Magedog-gendongan.Upacara ini dilakukuan setelah kandungan berusia di bawah lima bulan.Upacara ini bertujuan untuk membersihkan dan memohon keselamatan jiwa si bayi agar kelak menjadi orang yang berguna untuk dalam masyarakat nanti.
b.      Upacara kelahiran
Pada saat menanam ari-ari mempergunakan kelapa yang kulit serabutnya telah terkupas tetapi masih ada batok kelapanya dan dibelah dua, memakai ijuk, kain putih, dan rontal yang berisi tulisan bamboo (ngaad). Semua itu mengandung makna masing-masing, yaitu:
a)    Kelapa merupakan symbol kekuatan Sang Hyang Basunari, agar bayinya dilindungi.
b)   Kain putih sebagai pembungkus menjadi symbol kesucian, agar anak setelah dewasa nanti mau memelihara kesuciannya.
c)    Pisau dari bamboo menjadi symbol ketajaman pikiran dan kecerdasan.
d)   Daun rontal yang ditulis menjadi symbol sebagai kesehatan rohani dan jasmani kelak dikemudian hari memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi.
e)    Ijuk sebagai symbol rambut bayi yang lebat,
f)    Setelah ari-arinya ditanam di atasnya diisi batu hitam menjadi symbol keteguhan iman dan panjang umur.
g)   Kemudian ditanam pohon pandan sebagai symbol buaya rakrik untuk menolak perbuatan jahat.
h)   Ditanamkan pohon kantawali menjadi symbol nagapasa juga sebagai symbol penolak perbuatan jahat.
i)     Yang terakhir ditancap sebuah sanggah tutuan menjadi symbol stananya Sang Hyang Mahayoni Sakti sebagai dewanya si bayi.
j)          Diatas batu hitam/batu bulitan diletakkan sebuah lampu dari minyak kelapa dan ditutup dengan sangkar ayam (guwungan).
k)        Lampu tersebut menjadi symbol sinarnya Sang Hyang Candra, supaya nanti si bayi memiliki kecermelangan didalam batinnya.
l)          Sangkar ayam menjadi symbol kekuatan dari Sang Hyang Mertyunjaya, agar jiwa si bayi selalu dilindungi.[1]

Tata cara upacara magedog-gendongan:
Dilakukan di dalam pemandian di dalam rumah,ibu yang sedang mengandung disucikan,di tempat suci itu disertakan pula alat upacara berupa benang hitam satu ikat yang kedua ujungnya diikatkan pada cabang kayu dadap,bambu runcing,air berisikn ikan yang masih hidup,ceraken dibungkus dengan kain lalu cabang kayu dadap yang terikat dengan kayu dadap ditancapkan pada pintu gerbang.Ceraken yang berisi air dan ikan dijinjing oleh sang ibu,sang suami memegang dengan tangan kiri,sedangkan tangan kanan suami memegang bamboo,air suci dipercikan pada sesajian yang telah disediakan,.setelah itu suami istri bersembahyang memohon keselamatan agar bayi yang di dalam kandungan  selamat sampai lahirnya nanti tanpa hambatan,upacara ini disertakan pula mantra-mantra sepertidi Bali digunakan mantra Matrpuja Nadisraddhadan dan Prapajapalopuja yang samata-mata dilakukan untuk keselamatan ibu.[2]

c.       Perbedaan-perbedaan 
Terdapat beberapa perbedaan dalam upacara Jatakarma dalam umat Hindu di India dan umat Hindu di Indonesia.Jika di India sehari sebelum melahirkan,sang ibu dianjurkan memasuki kamar yang telah disediakan khusus untuk proses kelahiaran,yang telah pula diberikan doa-doa untuk mengusir kekuatan negative serta penjagaan terhadap kekuatan negatife yang akan masuk.Pada saat proses kelahiran,sang ibu berbaring,lalu semua pintu kamar dibuka tetapi pintu rumah luar ditutup,konon cara seperti ini juga digunakan di Jerman ketika proses kelahiran berlangsung.Pada saat itu pula diucapkan doa-doa untuk melindungi ibu dan bayinya dari gangguan-gangguan negative.Pada tradisi umat Hindu di Hindia,tidak adanya doa ataupun upacara mengenai ari-ari. 
Lain pula halnya di Indonesia,dalam kepercayaan umat Hindu di Indonesia,beranggapan bahwa mulai saat setelah lahir,pada saat itu juga bayi itu diasuh oleh Sang Hyang Kumara ,dan untuk itu pula dibuatkan  sebuah tempat bayi itu tidur yang disebut pelangkir Kumara.Sang Hyang Kumara ini ditugaskan oleh Bhatara Siswa menjadi pengasuh serta pelindung anank-anak yang seketika itu giginya belum tanggal.Sesajen untuk Kumara ini berisi nasi putih dan nasi kuning  yang berisikan telur dadar,sepotong kecil pisang mas,geti-geti,gula jawa(gula bali yang direbus),serta minyak wangi dan bunga-bungaan yang harum,terutama yang berwarna putih dan kuning.Dalam kepercayaan umat Hindu,Kumara adalah seorang dewa yamg tidak mau mempunyai keturunan sehinnga tetap sebagai teap menjadi anak-anak,tetap suci dan lugu,Jika seorang bayi tertawa kecil sendiri,tiu daanggap sedang bermain-main dengan penjaganya yaitu Kumara.Tentang masalah ari-ari di Indonesia,hal ini termasuk masalah penting dalam penanganannya.

B.        Makna Perkawinan dan upacaranya
a.       Makna Perkawinan

  Dalam agama Hindu istilah perkawinan biasa disebut Pawiwahan. Pengertian Pawiwahan itu sendiri dari sudut pandang etimologi atau asal katanya, kata pawiwahan berasal dari kata dasar “ wiwaha”. Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa kata wiwaha berasal dari bahasa sansekerta yang berarti pesta pernikahan.
Dalam Hindu, perkawinan dianggap sebagai komitmen seumur hidup dari seorang istri dan suami, adalah ikatan sosial yang paling kuat yang terjadi antara seorang wanita dan pria dihadapan orangtuanya, keluarganya, teman-temannya dan masyarakat. Tahapan untuk mewujudkan empat tujuan hidup itu disebut dengan Catur Asrama. Pada tahap Brahmacari asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mendapatkan Dharma. Grhasta Asrama memprioritaskan mewujudkan artha dan kama. Sedangkan pada Wanaprasta Asrama dan Sanyasa Asrama tujuan hidup diprioritaskan untuk mencapai moksa. Perkawinan dalam agama Hindu juga berarti melaksanakan salah satu dari empat tahapan dalam kehidupan (Brahmacarya Asrama,Grhastha Asrama, Vanaprastha Asrama, dan Sannyasa Asrama), melasanakan perkawinan berarti seorang Hindu tersebut melaksanakan tahapan pada poin ke dua yaitu Grhastha Asrama, yaitu titik awal pada tahapan ini adalah perkawinan seseorang yang dianggap sebagai sakramen , dan bukan merupakan kontrak, dalam pandangan kehidupan Hindu. Perkawinan atau wiwaha adalah suatu upaya untuk mewujudkan tujuan hidup Grhasta Asrama. Tugas pokok dari Grhasta Asrama menurut lontar Agastya Parwa adalah mewujudkan suatu kehidupan yang disebut “Yatha sakti Kayika Dharma” yang artinya dengan kemampuan sendiri melaksanakan Dharma. Jadi seorang Grhasta harus benar-benar mampu mandiri mewujudkan Dharma dalam kehidupan ini. Kemandirian dan profesionalisme inilah yang harus benar-benar disiapkan oleh seorang Hindu yang ingin menempuh jenjang perkawinan.
Selain itu bagi seorang Hindu, perkawinan adalah cara satu-satunya untuk melanjutkan keturunan keluarga dan dengan demikian membayar hutangnya. Dalam Hindu ada tiga hutang yang harus dibayar yaitu hutang pada Tuhan, hutang pada para Rsi dan orang suci, dan yang ketiga hutang yang harus dibayar seseorang dalam kehidupan seseorang adalah pada leluhur seseorang. Pembayaran hutang yang ketiga inilah yang berhubungan dengan perkawinan karena pembayaran ini termasuk didalamnya membentuk keluarga, pendidikan keagamaan, seni dan ilmu pengetahuan yang mencukupi bagi anak seseorang adalah bagian yang utama dari hutang ini . Perkawinan pada hakikatnya adalah suatu yadnya guna memberikan kesempatan kepada leluhur untuk menjelma kembali dalam rangka memperbaiki karmanya. Dalam kitab suci Sarasamuscaya sloka 2 disebutkan “Ri sakwehning sarwa bhuta, iking janma wang juga wenang gumaweakenikang subha asubha karma, kunang panentasakena ring subha karma juga ikang asubha karma pahalaning dadi wang” artinya: dari demikian banyaknya semua mahluk yang hidup, yang dilahirkan sebagai manusia itu saja yang dapat berbuat baik atau buruk. Adapun untuk peleburan perbuatan buruk ke dalam perbuatan yang baik, itu adalah manfaat jadi manusia.[3]          Kesucian perkawinan dicerminkan dalam fakta kebanyakan dari manifestasi Tuhan mengambil wujud berpasangan, tidak sendiri baik Dewa maupun Dewi. Perkawinan Hindu yang ideal adalah untuk menyatukan perbedaan untuk keharmonisan hidup.

b.      Upacara Perkawinan
Dalam agama Hindu, pernikahan secara keseluruhan adalah sifat religious, tetapi didahului dengan upacara pendahuluan. Upacara pendahuluan ini dapat berbeda dari etmpat satu ke tempat lainnya dan dari daerah satu ke daerah lainnya. Upacara pendahuluan ini dilakukan oleh seorang pendeta di rumah mempelai wanita (atau kuil) sebelum upacara perkawinan berlansung selama beberapa jam. Hari dan tempat perkawinan diatur oleh pendeta. Upacara yang paling penting untuk pengesahan suatu perkawinan Hindu adalah upacara yang disebut Saptapadi.
c.       Syarat perkawinan terdiri dari dua faktor,yaitu secara:
Batiniah,yaitu:
a)   pernikahan yang berdasarkan cinta sama cinta
b)  mempelai harus agama yang sama
Lahiriah, yaitu:
a)      faktor usia
b)      bibit,bebet,bobot
c)      tidak terikat oleh suatu perkawinan dengan pihak lain[4]

Didalam masyarakat Hindu,khususnya di Bali, terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan untuk perkawinan yang merupakan bentuk pejabaran dari bentuk perkawinan yang diungkapkan dalam Pustaka Manawa Dharmasastra, diantaranya: mempadik, ngerorod, nyentana, melegandang.[5]
Walaupun terdapat variasi diantara orang-orang Hindu dalam upacara dan ritual perkawinan namun sumber dari segala kebiasaan tersebut adalah dari kitab suci.
1.        Permulaan Perkawinan : pendeta memulai upacara perkawinan itu dibawah sebuah panggung yang dirancang khusus dan dihias untuk upacara itu. Pendeta memohonkan berkah dari Tuhan pada pasangan yang akan dikawinkan. Mempelai wanita memberikan yougurt dan madu pada pasangan mempelai priadengan meletakkan kalungan bunga dilehernya dan mempelai pria membalas hal yang sama.
2.        Kanya Dana (memberikan anak perempuan) : mempelai wanita melambangkan perubahan status dari seorang wania yang belum menikah menjadi seorang istri dengan mengoleskan bubuk ditangannya. Seorang ayah menuangkan air suci yang melambangkanpenyerahan putrinya kepada mempelai pria. Mempelai pria menyanyikan lagu-lagu Veda pada Kamma, Dewa Cinta, untuk cinta yang murni dan berkahnya. Sebagai syarat untuk menikahi putrinya, ayah mempelai wanita meminta tiga tujuan, yaitu, dhama, artha, kamma. Mempelai pria berjanji dan mengulangnya tiga kali bahwa ia tidak akan menyakiti dan sadar akan dhama, artha, kamma.
3.        Vivaha (Perkawinan) : mempelai wanita dan mempelai pria berhadap-hadapan, dan pendeta mengikat busana mereka (sari mempelai wanita dan baju mempelai pria) membentuk simpul, melambangkan penyatuan yang suci. Mempelai wanita dan pria saling mengalungi kalungan bunga satu sama lain dan menukar cincin. Kemudian api suci dihidupkan dan dipuja, melambangkan saksi dari sakramen itu.
4.        Panigrahana (memegang tangan) : Kedua mempelai saling berhadapan, mempelai pria memegang tangan mempelai wanita dan menyanyikan lagu-lagu Veda untuk hubungan yang bahagia.
5.        Laya Homa : Mempelai wanita memberikan pengorbanan makanan (yang diberikan oleh kakak laki-laki mempelai wanita, atau seseorang yang bertindak sebagai kak laki-lakinya) pada Tuhan untuk berkah dewa-dewa.
6.        Agni Parinaya: Mempelai pria memegang tangan mempelai wanita dan keduanya berjalan tiga kali mengelilingi api upacara perkawinan. Keduanya memberikan air suci dan menyanyikan lagu-lagu Veda pada dewa-dewa untuk kemakmuran, peruntungan yang baik, dan kesetiaan pasangan yang menikah.
7.        Asmarohana (menumpuk batu) : Pada akhir dari setiap putaran api upacara, kedua mempelai menginjak batu dan berdoa aar cinta mereka kokoh dan tetap setia seperti batu.
8.        Saptapadi (tujuh langkah, sumpah perkawinan) : Ini adalah upacara yang paling penting dari keseluruhan upacara perkawinan. Mempelai wanita dan pria melangkah sebanyak tujuh langkah mengelilingi api perkawinan (Agni) dan bersumpah satu sama lain dengan sumpah perkawinan. Upacara Saptapadi yang berakhir dengan doa bahwa penyatuan ini tidak akan pernah terpisahkan.
9.        Suhag : Mempelai laki-laki meletakkan Shindur (bubuk merah) pada rambut mempelai wanita yang menandakan bahwa ia adalah wanita yang sudah menikah.
10.    Asirvada (berkah) : orang tua mempelai pria memberikan berkah pada pasangan dan memberikan pakaian atau bunga pada mempelai wanita  (yang sekarang telah menjadi menantu mereka), melambangkan bersatunya ia dengan keluarga mempelai pria. Semua hadirin melempari bunga pada pasangan pengantin dan memberkahi mereka.
11.    Lagu-lagu perkawinan banyak berasal dari Veda dan kitab-kitab lainnya, salah satunya lagu berasal dari Rg Veda.[6]

C.      Makna Kematian dan Upacaranya ( Ngaben)
a.    Makna Kematian
Ngaben secara umum didifinisikan sebagai upacara pembakaran mayat, kendatipun dari asal-usul etimologi, itu kurang tepat. Sebab ada tradisi ngaben yang tidak melalui pembakaran mayat. Ngaben sesungguhnya berasal dari kata beya artinya biaya atau bekal. Kata beya ini dalam kalimat aktif(melakukan pekerjaan) menjadi meyanin. Boleh juga disebut ngabeyanin. Kata ini kemudian diucapkan dengan pendek, menjadi ngaben.[7]
Manusia terdiri dari dua unsure yaitu, Jasmani dan Rohani. Menurut Agama Hindu manusia terdiri dari tiga lapisa, yaitu: Raga Sarira, Sukma Sarira, dan Antahkarana Sarira. Raga Sarira adalah badan kasar. Badan yang dilahirkan karena nafsu(ragha) antara ibu dan bapak. Sukma Sarira adalah badan astral, atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu (Citta, Manah, Indriya dan Ahamkara). Anthakarana Sarira adalah yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma.[8]
Ketika manusia itu meninggal, Sukma Sarira dengan Atma akan pergi meninggalkan badan. Atma yang sudah begitu lama menyatu dengan Sarira, atas kungkungan Sukma Sarira, sulit sekali meninggalkan badan itu. Padahal badan sudah tidak dapat difungsikan, lantaran beberapa bagian sudah rusak. Hal ini merupakan penderitaan bagi Atma.
Untuk tidak terlalu lama Atma  terhalang perginya, perlu badan kasarnya diupacarakan untuk mempercepat proses kembalinya, kepada sumber dialam., yakni Panca Mahabhuta . demikian juga bagi Sang Atma perlu dibuatkan upacara untuk pergi kea lam pitra dan memutuskan keterikatannya dengan badan kasarnya. Proses inilah yang disebut Ngaben.[9]

b.    Upacara Kematian

a)       Bentuk-bentuk Upacara Ngaben
1.        Ngaben Sawa Wedana
Sawa Wedana adalah upacara ngaben dengan melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) . Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari hari meninggalnya orang tersebut. Pengecualian biasa terjadi pada upacara dengan skala Utama, yang persiapannya bisa berlangsung hingga sebulan. Sementara pihak keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara maka jenazah akan diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah dengan pemberian ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Dewasa ini pemberian ramuan sering digantikan dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih ditaruh di balai adat, pihak keluarga masih memperlakukan jenazahnya seperti selayaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, memberi makan disamping jenazah, membawakan handuk dan pakaian, dll sebab sebelum diadakan upacara yang disebut Papegatan maka yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada dilingkungan keluarganya.
2.      Ngaben Asti Wedana
Asti Wedana adalah upacara ngaben yang melibatkan kerangka jenazah yang telah pernah dikubur. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa. Hal ini dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat, misalnya ada upacara tertentu dimana masyarakat desa tidak diperkenankan melaksanakan upacara kematian dan upacara pernikahan maka jenazah akan dikuburkan di kuburan setempat yang disebut dengan upacara Makingsan ring Pertiwi ( Menitipkan di Ibu Pertiwi).

3.      Swasta
Swasta adalah upacara ngaben tanpa memperlibatkan jenazah maupun kerangka mayat, hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal, seperti : meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan, dll. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana (pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan.

4.        Ngelungah
Ngelungah adalah upacara untuk anak yang belum tanggal gigi.

5.      Warak Kruron
Upacara untuk bayi yang mengalami keguguran.









b)   Pelaksanaan Upacara
1.      Mabersih/Mresihin
1)      Upakara yang disiapkan:
a.       Air bersih
b.      Air kumkum
c.       Kramas dan minyak rambut
d.      Sigsig
e.       Bablonyoh putih kuning
f.       Sikapa
g.      Telur Ayam
h.      Don tuwung
i.        Daun-daun: intaran, menuh
j.        Kepehan waja, kepehan meka,malem
k.      Daun padma, daun terang bola
l.        Monmon mirah
m.    Angkeb rai putih
n.      Pangulungan
o.      Kain putih
p.   Kwangen dengan uang kepeng 11 satu buah (ada kalanya disuatu tempat juga, dijalankan kwangen pangrekan 22 buah)
q.      Tirtha pembersih
r.        Papaga (Bale Padyusan)

2)        Pelaksanaan Memandikan Sawa:
Sawa digotong dari tempat meninggalnya, lalu ditaruh pada bale papaga. Pakaiannya yang dahulu dilugar, lalu dialasi tikar dengan kain baru. Dikasih gelang dengan uang kepen 200. Diatas Sawa dipasang kain putih sebagai leluhur. Pakaiannya dilugar, kemaluannya ditutup. Kalau laki ditutup dengan kain, terung bola, oleh anak perempuannya. Kalau perempuan ditutup dengan daun padma, oleh anak yang laki. Sawa disiram dengan air bersih disekujur tubuhnya. Lalu dilaksanakan pembersihan sawa. Mula-mula mulutnya dengan air kekumur, lalu diberi sigsig kemudian dikeramas. Kemudian diminyaki, setelah bagian hulu, mukanya ditutup dengan prarai, kemudian badannya ditutup dengan kain bersih biasa. Mulai dari leher hingga kaki. Kukunya yang kotor dikerk. Setelah itu diurap dengan bablonyoh terakhir sawa dibersihkan lagi dengan air bersih lalu air kumkuman.

2.      Eteh-eteh
Setelah pembersihan lalu dilanjutkan dengan: maeteh-eteh, yakni menempatkan sarana-sarana: daun intaran pada alis, pusuh menuh diatas hidungnya, kaca ditaruh diatas matanya, waja ditaruh diatas giginya, sikapa yang diiris-iris ditaruh di dadanya, bbek ditaruh diatas perutnya, malem ditaruh pada telinganya, daun terung bola ditaruh diatas kelamin pria, daun padma ditaruh diatas kemalan perempuan, kemudian disembar dengan daun terung. Kakinya diitik-itik ngeka pada, tangan diamustikan diisi kwangen dengan uang kepeng 11. Monmon mirah dimasukkan pada mulutnya. Pada masing-masing bagian tubuh diletakkan kwangen.Kwangen yang berisi pucuk dadap ditaruh dikepala atau dahi menghadap kebawah. Kwangen yang berisi kepeng 11 ditaruh ditengah-tengah susu(dada), menghadap kepala.kwangen yang berisi uang kepeng 9 yang disertai bunga cempaka putih ditaruh pada tangan kanan dan kiri dan dua kwangen ditaruh di kaki kanan dan kiri. Setelah itu diberikan tirta pembersih dan penglukatan. Sawa kemudian digulung dengan kain putih dan tikar kalasa. Kemudian dilante dan diikt dengan tali yang kuat. Diatas penggulungan ditaruh daun telunjungan, kain putih secukupnya dan tatindih.

3.      Persembahan
Sawa diangkat, dilempari telur ayam dari kepala menuju kakinya, anak-anak, cucu dan lain-lain lalu masulub. Sawa ditidurkan dibale. Diahturi punjung, dan tataban satu soroh eedan. Upasaki ke surya mempersembahkan suci satu soroh dengan banten asoroh eedan, beserta lis, segau dan tepung tawar, upasaki dihaturkan, tataban kesawa menyusul. Keluarga yang lebih muda menyembah. Setelah selesai keluarga menyuapi punjung kepada Sang mati dengan alat daun dadap serta mempergunakan tangan kiri. Setelah selesai persembahan, lalu disuntik dengan formalin dan dimasukkan ke dalam peti (selepa). Hal ini dilakukan karena menunggu hari pengabenan.

4.      Narpana
Narpana untuk menentramkan Sang Pitra dilakukan melewati hri Purnama dan Tilem. Artinya pada hari Purnama dan tilem sebelum pengabenana wajib mempersembahkan tarpana, dengan upakara babanten.

5.      Metangi
Upacara ini dilakukan tiga hari menjelang pengabenan. Upacaranya juga menghaturkan tarpana. Upacara ini bertujuan membangun Sang mati untuk segera Samskara.

6.      Samskara atau Manggah Beya
7.      Memberikan Sekul Liwet
      Sekul liwet yaitu bubur yang dibuat dengan beras yang dibersihkan 11 kali. Air yang dipakai menanak didapat dengan membeli diwaktu tengah malam di suatu kelebutan di sungai. Setelah tengah malam bubur ini dipersembahkan oleh Pretisantana yang terkemuka.

8.      Upacara kebeji dan Narpana
       Upacara kebeji bertujuan menyucikan Sang Pitra berjalan terus sampe hari pengabenan. Sedangkan upacara Narpana atau mempersembahkan perangkatan juga berjalan setiap hari kecuali hari pasha.

9.      Pemasmian atau pembakaran Sawa
      Dimulai sejak pagi-pagi daiadakan upacara Mlaspas Waadah (Bade), Petualangan dan Bale Gumi sampai Sawa habis terbakar.[10]











PENUTUP
Kesimpulan
Meski sedikit rumit dalam menjalankan praktik upacara dalam agama Hindu namun, semua bagian yang ada dalam upacara tersebut banyak manfaatnya dan mengandung nilai keagamaan yang besar. Perangkat-perangkat yang ada pada praktik upacara itu sesungguhnya adalah merupakan budaya Hindu yang sepantasnya harus dilestarikan, karena perangkat-perangkat tersebut merupakan bagian dari ajaran agama Hindu yang diimplementasikkan secara nyata dan tergolong dalam upakara/upacara dari kerangka agama Hindu. Disamping itu perangkat-perangkat tersebut menjadi atribut-atribut atau symbol-simbol yang memiliki keagamaan yang telah membudaya sejak dahulu kala sampai sekarang yang harus dipertahankan.











DAFTAR PUSTAKA

Arthayasa,I nyoman. Perkawinan Agama Hindu. Surabaya: PARAMITA,1998.
Singgin Wikarman, Drs. I Nyoman. Ngaben (Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama). Surabaya: PARAMITA, 2002.
Pandit, Bansi. Pemikiran Hindu. Surabaya: PARAMITA, 2000.
Sudarsana, Putu Drs.I.B. Ajaran Agama Hindu (Uparengga). Denpasar: Yayasan Dharma Acarya, 2000.
Sudharta ,Tjok Rai, Manusia hindu. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha,1993..




[1]Putu Sudarsana, Ajaran Agama Hindu (Uparengga), (Denpasar: Yayasan Dharma Acarya,2000) h.69-70.
[2] Tjok Rai Sudharta, Manusia hindu (Denpasar: Yayasan Dharma Naradha,1993), h.10-11.

[3] Bansi Pandit, Pemikiran Hindu, (Surabaya:PARAMITA,2006), h.304.
[4] I nyoman Arthayasa, Perkawinan Agama Hindu (Surabaya:PARAMITA,1998), h. 1-3.
[5] Ibid h.11-12.

[6] Ibid h. 309-312.
[7] I Nyoman Singgin Wikarman, Ngaben (Upacara dari Tingkat Sederhana sampai Utama), (Surabaya: PARAMITA, 2002), h.14.
[8] Ibid, h.22-23.
[9] Ibid, h. 24.
[10] Ibid, h.125-140.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar